Perjalanan luar kota 6 jam bukanlah waktu yang sebentar. Untuk anak yang aktif pecicilan, duduk di mobil dalam waktu yang lama itu membosankan. Maka sudah dipastikan kakak jumpalitan dikursi belakang, pindah ke tengah dan ke belakang lagi. Yang lihat aja capek sendiri dan khawatir jatuh ngenain adiknya.
Kalau sebagian orangtua memilih memberikan gadget biar anak yang aktif duduk diam di mobil, tapi kami ga. Kami biarkan dia jumpalitan dengan tetap mengingatkan kalau yang kakak lakukan itu bahaya. Lebih baik diam duduk, atau tidur saja.
Mau disuruh diam duduk? Otomatis ga donk. Hehe
Asumsi kami kalau capek juga berhenti sendiri, yang penting adik-adiknya aman dan tidak menganggu Abahnya mengemudi.
Tapi waktu malam tiba, tingkat kebosenan sudah akut. Kamipun menyadari. Kakak pun dengan sigap mengambil buku dam roketpennya "Fatih mau baca buku mi".
Iya, kakak kalau bosen memang sukanya lari kebuku. Tapi masalahnya saat itu berada di mobil dengan keadaan gelap. Dan untuk baca buku dengan roket pen, perlu penerangan biar keliatan titik sentuh epennya. Drama dimulai...
Kakak dengan santai nyalain lampu dimobil. Dan otomatis itu mengganggu Abahnya. Karena Abah silau kalau lampu didalam mobil dinyalakan.
"Kak, bisa ga baca bukunya nanti saja kalau sudah sampai" kata saya mulai negosiasi.
"Ga mau, mau baca buku sekarang" sambil dia keep calm nyentuhin roket pen ke bukunya.
Abahnya sudah mulai mau ngomong agak keras. Saya tahan "bentar bah, bentar...tunggu".
"Tapi kan Abahnya jadi silau kak, bahaya kan kalau Abahnya silau ga bisa lihat kedepan, bisa kecelakaan".
"Tapi Fatih mau baca buku mi, kalau dimatiin jadi ga keliatan buletannya." Mulai kesel dengan nada meninggi
"Iya, Ummi tau...tapi gimanaa donk, matiin ya".
"Ga mau" makin kedel.
"Yaudah kalu ga mau matiin sekarang, Ummi kasih waktu sebentar ya, nanti kalau udah dimatiin lampunya"
Dan diapun asyik membaca pake roket pen. Selang beberapa menit, Abahnya mulai mau nyuruh mematikan lampu, saya tahan lagi, "tunggu, biarin dulu."
"Kak, matiin ya sekarang"
"Ga miii, belum selesai" dengan nada santai tapi ngeselin
Abahnya mulai ngomong, ini awalnya saya khawatir Abah bakal ngomong keras dan langsung nyuruh matiin, tapi ternyata ga, malah ngasih solusi "Nih kak, pake senter hp aja" sambil nyodorin hp nya.
"Oh iya kak, pake senter hp kan bisa buat nerangin. Mau?" Kata saya menambahkan.
Mikirlah kakak sejenak... "mau tapi pake hp ummi aja, ga mau pake ini"
Alhamdulillah, akhirnya kakakpun menikmati baca buku dikeremangan sinar senter hp dan Abahnya bisa mengemudi tanpa gangguan.
Ga lama, eh rupanya sudah ngantuk dan memposisikan diri buat tidur.
Ya begitulah kakak, walaupun kami melarang dengan tujuan baik, karena bisa berbahaya, tapi kalau disampaikan dengan perintah larangan keras, dia bakal berontak. Berbeda dengan ketika disampaikan dengan jelas, tenang disertai solusi. Dia akan sadar dan menurut dengan ikhlas, karena tahu kalau yang dia lakukan bisa berbahaya. Dan mau menuruti solusi yang ditawarkan.
Berkomunikasi sama kakak ini memang tantangan banget buat kami, terlebih saya yang all day long bersamanya. Salah tanggapan sedikit, bisa drama. Tapi kalau tepat sasaran dihatinya bisa nurut banget. Dan dengan mengetahui komunikasi produktif ini, saya makin banyak belajar untuk selalu memperbaiki pola komunikasi kami agar kakak nurut bukan karena faktor takut, tapi nurut karena pesan yang kami sampaikan diterima dengan baik.
.
.
.
#komunikasiibudananak #komunikasiproduktif #jelasdansolutif #tantangan10hari #gamelevel1 #harike5 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Tidak ada komentar:
Posting Komentar