Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Produktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Produktif. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2018

Berusaha Keep Calm

"Heeh...Fatiiih, jangaan, nanti pecah. Bocah ko ora biso anteng"

Eyangnya agak teriak manggil kakak yang lagi mainan kaca jendela dengan dipukul-pukul.

Kakak yang energinya luar biasa memang selalu bikin khawatir. Maianan jendela, yang lihat khawatir pecah, akhirnya dilarang dengan banyak "jangan". Main lompat-lompat, yang lihat khawatir jatuh akhirnya dilarang dengan banyak "jangan". 

Kali ini "jangan" datang dari eyangnya yang baru datang dari jawa. 

Setelah kakak berhenti mukul-mukul jendela, saya bicara sama kakak.

👩 Kakak tau sifat kaca kaya apa?
👦 Iya mi tau, kaca mudah pecah.
👩Iya kak, kalau kena tekanan keras, bisa pecah. Kalau pecah bahaya kan? 
👦 Iya mi, bisa melukai tangan kakak kacanya 
👩Kalau gitu berarti kan bisa melukai diri kakak sendiri. Ya kan?
👦 Iya mi. 
👩Jadi tau ya...tidak diulangi lagi ya...mainan kaca jendela dengan mukul-mukul. 
👩 Iya mi.

Saya berusaha untuk tidak menjugde kakak dan tidak serta merta nyerocos ini dan itu. Dialog diatas saya ucapkan dengan penuh perjuangan. Karena biasanya saya sudah nyerocos dengan banyak "jangan" dan ngomel tak berkesudahan kalau kakak bertingkah yang membahayakan.

Kali ini saya berusaha tenang, berfikir logis, gimana caranya agar kakak tahu kalau yang dia lakukan berbahaya, tapi saya juga tidak membuat dia terluka dan menciderai rasa penasarannya dengan banyak larangan. 

Saya mencoba tidak menginterogasinya dengan kalimat negatur "tadi kenapa mainan jendela?" "kenapa jendelanya dipukul-pukul, kan bisa pecah, bahaya kak" dansebangsanya yang biasanya saya ucapkan secara spontan kalau kakak bertingkah membahayakan.

Saya coba tidak memberikan kritikan negatif atas tingkah kakak. Iya berbahaya, tapi saya mencoba untuk lebih memilih menggunakan kalimat tanya, observasi agar kakak tahu sendiri apa yang dilakukan membahayakan diri sendiri.

Semoga kestabilan emosi saya bisa terus terjaga dan bisa selalu menggunakan kalimat produktif saat berkomunikasi dengan kakak yang masya Allah tingkah dan energinya kaya ga ada habisnya.

kakak kesayangan yang energinya luar biasa.
.
.
.
#komunikasiibudananak #komunikasiproduktif #tantangan10hari #gamelevel1 #harike10 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Sabtu, 15 September 2018

Drama Berebut Bantal


Jam-jam menjelang tidur malam bagi saya itu waktu yang sesuatu. Hehe maksudnya di waktu itu selalu ada drama tak terduga diantara 3 anak.

Ya tiap malam rutinitas ngeloni 3 anak bisa menguras jiwa dan emosi. Tsaah lebai 😆
Karena ketiganya ga bisa lepas dari emaknya.

Kakak yang tiap malam harus dibacakan buku sebelum tidur. Kalau mintanya dibacakan Abah nya, saya selamaaat. Hahaha tapi kalau mintanya sama saya (seringnya begini😆), yasudah inhale exhale...nyiapin mental untuk ngadepin dramanya.

Mba cantik (anak kedua), yang harusnya sudah disapih masih aja ngASI menjelang tidur. Tantangan banget ini buat saya untuk nyapih dia. Kalau lagi males makan, sudah pasti bakal ngASI nya lama dan ini akan ngaruh ke adik nya (7bulan) yang juga nungguin dikeloni.

Adik bayi kalau ngASI ga selama mba nya, cuma suka drama kalau sudah berebut dan mba ga mau ngalah. Adik ga mau sama Abah nya. Sudah bisa dipastikan nangis semua. Dan disini kewarasan saya diuji. Hahaha 

Malam ini drama berebut bantal pun terjadi. Kakak yang memang hobi banget numpukin bantal jadi satu di pojokan kamar, ga ngebolehin adiknya pinjam salah satu bantalnya. Adiknya yang memang suka ngikutin kakaknya, dan suka tiduran di tumpukan bantal kakaknya kekeuh mau pinjam bantal merah. Dikasih bantal lain ga mau. Alhasil nangis lah dia.

Adik bayi denger mba nya nangis, auto ikutan nangis. Rameee....

Kakak ngumpetin bantal merah sambil ketus bilang "ga boleh pinjem yang ini. itu aja kalo Aisyah mau pinjem"

Adiknya nangis keras sambil bilang "Aisyah pinjem bantal merah" huaaaahuaaa makin keras. 

Inhale exhale...saya belum bereaksi. Masih ngatur nafas. Bisa repot urusan kalau saya pake emosi. Karena sejatinya ketiganya pada kondisi ngantuk. Dan mereka kalau ngantuk, duuuh bisa senggol bacok😂. Jadi yang ngadepin kudu tetep waras dan jaga emosi, jangan sampe kepancing suasana.

Dengan nada rendah dan kalem saya mulai bilang ke mba dan kakak 

👩 Mba Aisyah mau pinjem bantal kakak? 
👧 Iya mi. (Dijawab sambil sesenggukan).
👩 Pake bantal Ummi dulu mau, ini lebih besar loh. (Berusaha nego)
👧 Ga mau mi, mau yang itu, yang merah. (Sambil nunjuk bantal yang dipegang kakaknya)
👩 Tunggu yaaa.... (Saya beralih ke kakak)

----

👩 Kak, boleh Aisyah pinjam bantal nya?
👦 Ga boleh mi, Aisyah bantal yang itu aja. Fatih mau pake yang ini.
👩 Baiklah...

Saya mencoba keep calm dan ga memaksa ke kakak untuk meminjamkan bantalnya. Saya berusaha menghargainya untuk tidak meminjamkan bantalnya. Sayapun dengan pelan tapi didengar kakak bilang sama mba 

👩 Mba, kakak nya lagi ga mau minjemin bantalnya sekarang. Mba mau nunggu sampe kakak mau?
👧 Ga mau mi, mau bantal merah. (Dia masih nangis)
👩 Iya, tapi mba nunggu ya. Kakak kan sayang sama mba, jadi nanti kakak juga bakal pinjemin bantal kok, cuma tunggu dulu ya.

Kakak yang dengerin saya ngomong, mulai melunak dengan nada bicara rendah. 

👦 Aaah begini aja mi. Aisyah.... Aisyah naik dulu ke kasur, nanti begini... Aisyah boboan dikasur, nanti kakak kasih pinjem bantalnya. Ini kakak boboan sebentar, kalau kakak sudah kakak kasihin ke Aisyah. Mau? 

Adiknya pun mengangguk...

Maksudnya kakak gantian pake bantal nya. Dia duluan yang tiduran dengn bantal, lepas itu baru kasih ke adiknya.

Dan adiknya diem langsung nurutin apa yang dikata kakaknya untuk naik ke kasur.

Legaaa... Tanpa paksaan, tanpa ancaman, kakak mau meminjamkan bantalnya dengan sukarela ke adiknya.

Jurus seperti ini seringkali saya pake saat keduanya berebut dan tidak mau saling pinjam / berbagi.

"Kakak sayang adik, tapi mungkin kakak saat ini masih pingin mainan itu, jadi tunggu dulu ya sebentar."
"Kakak sayang adik, tapi saat ini kakak lagi ga ingin berbagi. Aisyah yang itu aja ya" 
Dan lain-lain...

Saya berusaha untuk tidak memaksakan ke salah satunya untuk berbagai dan meminjamkan. Terlebih ke kakak , saya sangat mengindari alasan "kan kakak sudah besar, pinjami adiknya, nanti dia nangis" dan redaksi semacamnya. Saya ga mau kakak merasa tertekan kerena harus selalu mengalah ke adiknya dengan alasan "dia sudah besar, nanti adik nangis". Padahal kakak juga sama, dia punya hak untuk mempertahan miliknya. Dia punya hak untuk sesuatu yang dia inginkan.

Jangan hanya karena dia anak pertama, dianggap wajar kalau selalu mengalah ke adiknya. Tidak, saya tidak ingin seperti itu. Karena mengalah dengan terpaksa itu ga enak. Ini bisa jadi sumbu masalah berikutnya. Saya berusaha untuk membuka hati kakak untuk berbagi ke adiknya, untuk meminjamkan mainan adiknya, bukan atas dasar mengalah karena paksaan, tapi dengan dasar "kakak sayang adik" .




Aaah kalian bertiga...memang anugerah yang luar biasa. Dari kalian Ummi belajar banyak hal dan karena kalian pulalah Ummi belajar banyak hal. 
.
.
.
#komunikasiibudananak #3kesayangan #komunikasiproduktif #tantangan10hari #gamelevel1 #harike9 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Jumat, 14 September 2018

Ketika Kakak Bertanya....


👦 Ummi, kenapa bisa ada tsunami?

👩 Kenapa hayoo?

Sengaja saya memberi jawaban begitu dan menahan diri untuk menanggapi "kan kakak sudah tahu jawabannya"

Iya, karena dia sebenarnya sudah tau. Saya test water, coba dia bisa ga merecall apa yang sudah pernah dia baca.

👦 Karena air lautnya naik, jadi gelombangnya tinggi 

👩 kenapa gitu kok air lautnya jadi naik?

👦 karena lempengan yang ada didasar laut nya bergerak & bertabrakan. Jadi bikin air laut naik, terus gelombang tinggi, jadi tsunami.

👩 betul kak, kalau  lempengan dibawah bumi bertabrakan akan terjadi gempa bumi. Dan kalau gempa bumi nya besar didekat laut, maka akan membuat gelombang laut tinggi. Bisa terjadi tsunami.


Yups, seperti itulah kakak. Dia suka bertanya hal-hal yang out of the box yang ditanyakan anak seumurannya. Dan tanya nya pun ga mengenal waktu 😆

Kalau pas saya lagi kerepotan, seringkali saya arahkan untuk mencari jawaban dibuku. 

Tapi kalau saya masih santai, seringkali saya ga lantas memberi jawaban panjang lebar. Saya beri dia ruang untuk menjawab sendiri apa yang ditanyakan. Saya pancing dengan balik tanya ke dia (observasi) Karena sebenarnya dia sudah tau, cuma kadang ya gitu...suka ngetest emaknya. 😆

Penting ini buat saya untuk selalu melayani tanyanya dengan lebih produktif, lebih memberi ruang dia berpikir, lebih mendengarkan dia dan menjawab dengan landasan, bukan jawaban asal katanya.

Bagi sebagian orangtua, mungkin akan ngerasa bete ya kalau anaknya terus menerus tanya macem-macem, apalagi yang diluar jangkauan otak emaknya. Hahaha tapi bagi saya ini adalah anugerah. Punya anak dengan linguistik yang menonjol. Saya bisa menanamkan banyak ilmu dan hikmah serta seringkali menemukan AHA momen dari setiap tanyanya. 


.
.
.
#komunikasiibudananak #komunikasiproduktif #tantangan10hari #gamelevel1 #harike8 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Kamis, 13 September 2018

Membangun Semangat Juang Anak : Ubah Kata Tidak bisa menjadi Bisa

Siang tadi, saat saya sedang nidurin adiknya, kakak nyamperin ke kamar, minta dibuatin es sirup.

👦 Ummi, bikinin es sirup.
👩 Bikin sendiri ya...
👦 Ga bisa ummi, nanti kalo Fatih yang bikin es batunya cepet mencair.
👩 Cepet mencair? Kan emang es batu nanti mencair?
👦 Maksudnya kalo Ummi yang bikin itu es batunya ga cepet cair, kalo Fatih cepet cair.
👩 Dicoba dulu ya. Bisa kok. Ambil gelas, tuang sirup di sendok, 2 sendok makan aja, terus isi air. Kasih es batu. 
👦 Baiklah...

Kakakpun keluar kamar. Saya mengikuti untuk memastikan.

Ternyata kakak mengerjakan sesuai instruksi saya. Pelan-pelan dituang ke sendok (ini biasanya langsung ke gelasnya dan seringnya kebanyakan). Kali ini ditakar cukup 2 SDM aja. Pas mau ngasih es batu, dia pecahin es batu dan masukin pecahan kecil-kecilnya.

👦 Ini kan mi, kalau Fatih begini es batu nya cepet cair.
👩 Ooh, maksudnya es batunya kecil-kecil jadi cepet cair ya.
👦 Iya mi. Kalau Ummi yang bikin kan ga kecil kecil begini.

Saya pun membantu ngasih es batu yang agak besar biar ga cepet cair. 

Dan es sirup pun siap dinikmati di siang yang terik.



Sepele ya kelihatannya cuma bikin sirup. Untuk anak 6 tahun mah harusnya sudah bisa dan kakak memang bisa. Tapi kakak yang linguistiknya menonjol ini suka sekali beretorika. Iya sih retorikanya masuk akal, cuma seringnya belum dicoba sudah berasumsi kalo tidak bisa. Ini yang menjadi tantangan saya. Karena memang saya sadari komunikasi saya ke kakak selama ini jauh dari kata produktif. Jadi saat usianya masuk 6 tahun bulan ini, retorikanya makin sesuatu. 

Butuh usaha untuk meyakinkan dia, bahwa "tidak ada yang sulit, kalau kita mau berusaha mencobanya".
Butuh usaha untuk membangun kembali semangat juangnya, yang mungkin sudah tercederai oleh mulut saya sendiri 😭
Butuh usaha untuk membangun kepercayaan dirinya yang melemah karena kesalahan saya.

Bismillahirrohamanirrohim, fokus saya memperbaiki dan mengupayakan diri untuk berkomunikasi produktif dengan intonasi dan suara ramah ke kakak. Mengubah kata tidak bisa menjadi bisa untuk membangun semangat juang dan kepercayaan dirinya. . Semoga Allah memudahkan dan menuntun mulut saya hanya untuk berkomunikasi produktif. Aamiin ya Allah 
.
.
.
#kakak #kesayangan #komunikasiibudananak #komunikasiproduktif #tantangan10hari #harike7 #gamelevel1 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Rabu, 12 September 2018

NEGOSIASI


Untuk anak usia 6 tahun, masalah komunikasi memang jadi sedikit berbeda. Karena kakak sudah punya nalar dan jalan pikiran sendiri yang sering membuat kami bernegosiasi.

Negosiasi sering terjadi dimana saja dan kapan saja, terlebih dalam hal jadwal nonton tv. Iya, kami punya kesepakatan jadwal nonton tv buat kakak setiap harinya. Kesepakatan ini sayangnya tidak tertulis dan ini yang membuat celah negosiasi diantara kami.

"Ummi, hari ini jadwal nonton tv kakak siang ya"
Saya iyakan karena memang hari itu jadwalnya siang.

Pas siang, dia berubah pikiran.
"Ummi, hari ini ga jadi siang, malam saja ya. Besok yang siang"

Nah ini nih...seringnya saya menurut saja, yang penting sehari sekali dengan durasi maksimal 2jam (ini maksimal banget, biasanya sebelum 2jam juga sudah bosen dan capek sendiri). Ini menjadi celah kedua negosiasi karena saya tidak konsisten.

Tayangan tv dia memilih sendiri dengan pendampingan saya. Dan ini celah ketiga negosiasi lagi, karena saya belum memberi batasan (yang penting tidak vulgar dan bukan kekerasan).

Seringnya 3 celah diatas lah yang membuat negosiasi ga jarang berujung rengekan dan tangisan kakak. Iya, dia memang agak sensitif. Gampang menangis kalau merasa kecewa dan marah.

Disini saya ingin memperbaiki pola negosiasi dengan komunikasi yang lebih produktif. Membuat kakak bisa lebih berpikir dan membuat keputusan sendiri tanpa merasa saya kecewakan. Saya takut kalau kakak kecewa sama sikap saya. Saya takut kakak menganggap saya egois karena apa-apa harus dia turuti. Dan saya takut kalau kakak menurut hanya karena "takut" kalau saya marah dan berteriak.

"Ummi, hari ini mau nonton cctv ya? Tapi dia tayangnya jam 11 siang, sedangkan jadwal nonton tv kakak habis sholat dzuhur".

"Ya silakan nonton lepas sholat dzuhur, kan bisa diputar ulang" (kebetulan dirumah kami memakai paket tv berlangganan yang bisa diputar ulang)

"Ga mau, mau nya sekarang, jam 11. Kalau nanti lamaaa"

"Kan jadwalnya kakak habis sholat dzuhur"

Mulai merengek ga jelas, dan tiba tiba dengan semangat bilang "gimana kalau jam 11 nonton dulu, pas dzuhur di matiin, nanti nonton lagi?" (Negosiasi mulai jalan)

"Tidak kakak, habis dzuhur ya..." saya masih kalem

Karena kakak sudah mengetahui celah saya yang kedua (yang kurang konsisten), diapun bilang "kemarin boleh di ganti jadwalnya, kenapa sekarang ga?" Mulai kesel dia.

Sayapun diam dan mencoba mencari pembelaan. Sebenarnya saya juga sih yang salah, karena ga konsisten, jadi diapun menjadikan itu "senjata makan tuan".

"Tapi kan kemarin..." saya bingung mau ngelanjutin ngomong apa. Dan kakak mulai merengek lebih keras 

"Gaaa, pokoknya mau jam11 nontonnya" sambil menjauhi saya.
"Kakaaaak...." saya pun memanggilnya.

Heemm...ga bisa nih dengan nada keras. Saya datangi, saya bicara pelan-pelan. Kakak masih terlihat kesel dan mengalihkan dengan bongkar pasang lego stik.

"Ummi ga ngelarang kok kakak nonton cctv, tapi kan jadwal kakak nanti habis sholat dzuhur. Cctv bisa kan di putar ulang nanti?"
"Iya bisa mi."
"Yasudah kan bisa, jadi ga ada masalah kan?"
"Tapi Fatih maunya langsung, bukan ulangan" masih kesel.
"Kan ga ada bedanya kak, nanti juga tayangannya sama, cuma waktunya aja yang berbeda. Iya ga?"
"Iya mi, tapi kan...." berhenti ngomong karena asyik nyusun mainan jadi tobot,
"Ga ada tapi ya, semalam kakak sendiri yang memilih nanti habis dzuhur nontonya. Kakak harus konsisten, sesuai dengan pilihan kakak, ga boleh berubah gitu hanya karena keinginan sesaat". Ini sebenarnya ngomong sama sendiri (konsisten mi, konsisten!)

Kakak diam sesaat dan ngomong "baiklah, nanti nontonnya habis sholat dzuhur, tapi besok Fatih mau nonton cctv jam 11."

Yaah akhirnya dia mau nurut sesuai pilihannyaa dan keinginan nonton cctv ditunda esok harinya.

Kejadian seperti ini ga jarang terjadi. Kadang saya yang kalah karen ga mau ambil pusing nego, terlebih saat masih fokus sama adik-adiknya. Kadang saya menang dengan teriakan dan larangan, tanpa mendengarkannya. Dan kali ini saya menang dengan negosiasi yang membuat kakak tidak terlalu kecewa, karena dia menyadari pilihannya dengan CnC.
.
.
.
#komunikasiibudananak #CnC #negosiasi #komunikasiproduktif #tantangan10hari #gamelevel1 #harike6 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Selasa, 11 September 2018

Jelas dan Solutif : Baca Buku dengan penerangan Senter


Perjalanan luar kota 6 jam bukanlah waktu yang sebentar. Untuk anak yang aktif pecicilan, duduk di mobil dalam waktu yang lama itu membosankan. Maka sudah dipastikan kakak jumpalitan dikursi belakang, pindah ke tengah dan ke belakang lagi. Yang lihat aja capek sendiri dan khawatir jatuh ngenain adiknya. 

Kalau sebagian orangtua memilih memberikan gadget biar anak yang aktif duduk diam di mobil, tapi kami ga. Kami biarkan dia jumpalitan dengan tetap mengingatkan kalau yang kakak lakukan itu bahaya. Lebih baik diam duduk, atau tidur saja.

Mau disuruh diam duduk? Otomatis ga donk. Hehe 

Asumsi kami kalau capek juga berhenti sendiri, yang penting adik-adiknya aman dan tidak menganggu Abahnya mengemudi.

Tapi waktu malam tiba, tingkat kebosenan sudah akut. Kamipun menyadari. Kakak pun dengan sigap mengambil buku dam roketpennya "Fatih mau baca buku mi".

Iya, kakak kalau bosen memang sukanya lari kebuku. Tapi masalahnya saat itu berada di mobil dengan keadaan gelap. Dan untuk baca buku dengan roket pen, perlu penerangan biar keliatan titik sentuh epennya. Drama dimulai...

Kakak dengan santai nyalain lampu dimobil. Dan otomatis itu mengganggu Abahnya. Karena Abah silau kalau lampu didalam mobil dinyalakan.

"Kak, bisa ga baca bukunya nanti saja kalau sudah sampai" kata saya mulai negosiasi.

"Ga mau, mau baca buku sekarang" sambil dia keep calm nyentuhin roket pen ke bukunya.

Abahnya sudah mulai mau ngomong agak keras. Saya tahan "bentar bah, bentar...tunggu".

"Tapi kan Abahnya jadi silau kak, bahaya kan kalau Abahnya silau ga bisa lihat kedepan, bisa kecelakaan".

"Tapi Fatih mau baca buku mi, kalau dimatiin jadi ga keliatan buletannya." Mulai kesel dengan nada meninggi

"Iya, Ummi tau...tapi gimanaa donk, matiin ya".

"Ga mau" makin kedel.

"Yaudah kalu ga mau matiin sekarang, Ummi kasih waktu sebentar ya, nanti kalau udah dimatiin lampunya"

Dan diapun asyik membaca pake roket pen. Selang beberapa menit, Abahnya mulai mau nyuruh mematikan lampu, saya tahan lagi, "tunggu, biarin dulu."

"Kak, matiin ya sekarang"
"Ga miii, belum selesai" dengan nada santai tapi ngeselin 
Abahnya mulai ngomong, ini awalnya saya khawatir Abah bakal ngomong keras dan langsung nyuruh matiin, tapi ternyata ga, malah ngasih solusi "Nih kak, pake senter hp aja" sambil nyodorin hp nya.
"Oh iya kak, pake senter hp kan bisa buat nerangin. Mau?" Kata saya menambahkan.
Mikirlah kakak sejenak... "mau tapi pake hp ummi aja, ga mau pake ini" 



Alhamdulillah, akhirnya kakakpun menikmati baca buku dikeremangan sinar senter hp dan Abahnya bisa mengemudi tanpa gangguan.

Ga lama, eh rupanya sudah ngantuk dan memposisikan diri buat tidur. 

Ya begitulah kakak, walaupun kami melarang dengan tujuan baik, karena bisa berbahaya, tapi kalau disampaikan dengan perintah larangan keras, dia bakal berontak. Berbeda dengan ketika disampaikan dengan jelas, tenang disertai solusi. Dia akan sadar dan menurut dengan ikhlas, karena tahu kalau yang dia lakukan bisa berbahaya. Dan mau menuruti solusi yang ditawarkan.

Berkomunikasi sama kakak ini memang tantangan banget buat kami, terlebih saya yang all day long bersamanya. Salah tanggapan sedikit, bisa drama. Tapi kalau tepat sasaran dihatinya bisa nurut banget. Dan dengan mengetahui komunikasi produktif ini, saya makin banyak belajar untuk selalu memperbaiki pola komunikasi kami agar kakak nurut bukan karena faktor takut, tapi nurut karena pesan yang kami sampaikan diterima dengan baik.
.
.
.
#komunikasiibudananak #komunikasiproduktif #jelasdansolutif #tantangan10hari #gamelevel1 #harike5 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Senin, 10 September 2018

Hectic Day : Ketika Emosi Menguasai Diri

Hectic Day

Agenda dadakan selalu bikin hectic. Kebiasaan suami yang sukanya serba mendadak, berimbas pada emosi jiwa dan raga. #eh 😆

Ya rencana Ibu mertua mau datang kesini mendadak, tiba-tiba aja hari Jumat beliin tiket buat hari Senin dan kita jemput hari Ahad berangkat dari rumah. Aaah apa kabar cucian dan rumah berantakan?

Hari Ahad pun pagi hari sudah mulai hectic. Ngejar ngelarin cucian, ngejar beresin rumah, adik bayi yang aduhai nempel nya dan deadline sana sini yang kudu diselesaikan sebelum keluar rumah. Masya Allah ini sukses membuat komunikasi sama kakak hancur berantakan 😭

Niat hati saya mau bikin kue bolu buat bekal perjalanan, karena bahan-bahan untuk membuat brownies kesukaan kakak ga lengkap. Eh kakak protes dengan rengekan minta dibikinkan brownies dengan terus menerus neminta Abah nya beliin bahan yang belum ada.

"Ayo Abah, beli milo"
"Fatih mau bikin brownies, ga mau bolu." dengan nada ketus dan keras dia menyampaikan.

Karena saya yang sedari pagi udah ga bisa kontrol emosi, menanggapi kakak yang merengek sayapun terpancing

"Ummi ga tuli kak, ngomong pelan-pelan bisa?" dengan nada ketus

Kakakpun ngomong pelan dengan rasa takut.

Lanjut sesi bikin brownis, saat mau masukkan milo, drama lagi antara 3 anak. Kakak dan adik nya berebut mau bikin milo, adik bayi nangis karena ngantuk. Wuiih kepala mau pecah, detak jantung lebih cepat jedag jedug.

Kakak ga sengaja menumpahkan air kena omelan. Adiknya yang menuang milo terlalu banyak pun tak luput kena omelan. huaaaa 😭😭😭

Akhirnya setelah brownies masuk smart cooker, mulai bisa calm down dan melipir sebentar ke kamar, sembari ngeloni adik bayi. Inhale exhale....

Memang emosi ini yang menjadi kunci nya. Kalau sadar dan bisa mengendalikannya, komunikasi bisa lebih terarah dan produktif. Tapi kalau nurutin emosi? Ya yang ada anak kena imbas omelan dan itu terjadi hari ini. 😭😭😭

Lepas brownis matang dan saya memilih meluapkan emosi ke beresin semua yang berantakan sebelum berangkat. Saya luapkan emosi buat menyapu, mengepel, cuci piring dan apa aja yang ada didepan maya, biar energi buat emosi habis. Alhamdulillah lepas itu, emosi kembali terkontrol dan kami pun berangkat dengan penuh suka cita. Bye bye emosi, welcome back komunikasi produktif.

Dan inilah brownis bekal perjalanan yang bikinnya penuh drama, tapi tak mengurangi enaknya kue kesukaan kakak. 

.
.
.
#komunikasiibudananak #komunikasiproduktif #tantangan10hari #gamelevel1 #harike4 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Minggu, 09 September 2018

Ganti Perintah dengan Pilihan : Anak Memilih dengan Bahagia tanpa Drama

Ganti Perintah dengan Pilihan 

Kemarin saat kita jalan ke expo (aka pasar malam), kami singgah di masjid untuk sholat Maghrib. Karena sudah terbiasa dengan masjid Baiturahman (dibawah masjid kantor Abah nya dan dulu kakak sekolah disana). Maka kakak pun merasa bebas. Lari-larian sama adiknya. 😣

Berhubung waktu maghrib, jamaah masjid pun banyak. Sebelum kakak ditegur oleh jamaah lain, saya panggil dan berbicara dengan pelan 

"Kakak tau ini dimana?"
"Di Masjid mi"
"Kalau di masjid adabnya gimana?"
"Diam, duduk, nunggu iqomah"
"Silakan dilakukan, bisa kan?"
"Bisa mi".

Dan kakak pun berjalan pelan ke arah jamaah laki-laki.

Saya berusaha tenang dan mengajukan pertanyaan yang kakak sudah tahu jawabannya. Iya agar dia menyadari sendiri mana yang baik dan kurang baik. Terlebih di masjid.

Waktu di expo, kakak pun mulai meminta beli mainan dan main di arena permainan. 

"Nanti main mobil itu ya mi, sama beli mainan robot"

"Kakak pilih salah satu, mau beli mainan atau bermain itu?" kata saya sambil nunjuk arena permainan.

Diapun mikir. Menimbang baiknya beli mainan atau bermain ya? Dan diapun jawab

"Mi, kita beli eskrim saja,  habis itu main itu. Ga usah beli mainan. Oke?"

"Oke kak"
Kami pun melenggang beli 2 es krim untuk kakak dan adik.

"Habiskan dulu ya eskrim nya, baru kita main." kata saya

"Iya mi" jawab kakak 

Mereka berdua pun semangat bermain di arena permainan sampai basah kuyup keringatan.
 
Kakak memilih main diarena ini, diapun antusias menyalurkan energinya sampai basah kuyup berkeringat.

Alhamdulillah,..biasanya setiap kali ke expo, perdebatan klasik ya masalah beli mainan dan bermain di arena permainan ini sering berakhir pada kakak yang kecewa karena diputuskan sepihak "tidak boleh beli mainan itu atau tidak boleh bermain itu". Tapi kali ini kakak membuat pilihan sendiri dan dengan sadar tidak membeli mainan. Jadi sampai rumah pun dia tidak menagih macem-macem, karena sadar akan pilihannya. 

Saya pun lebih bahagia, kakak tidak merengek ga jelas. Dan sebagai hadiah, saya pun menuruti keinginan kakak membeli takoyaki.
.
.
.
#komunikasiibudananak #komunikasiproduktif #tantangan10hari #gamelevel1 #harike3 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Sabtu, 08 September 2018

KISS : Instruksi jadi lebih Mudah diterima Anak


Biasanya, iya biasanya kalau lihat ada yang berantakan suka langsung minta tolong kakak untuk membereskan. Tapi biasanya dengan kalimat panjang kali lebar. 

"Kak, sudah selesai makannya? Jangan lupa diberesin , piring taruh ke tempat cucian piring. Terus itu yang basah di lap, mainan-mainan dimasukkan ke keranjang biar karpetnya bersih buat main adik".

Kakak pun menuruti perintah, tapi biasanya lama dan sayapun perlu mengulang perintah beberapa kali.

Kemarin bisa memberikan instruksi lebih pendek. Saya menahan diri untuk nyerocos, memberikan instruksi satu per satu dulu biar kakak melakukan dengan benar. 

"Kak, handuknya ditaruh ya ditempat nya"

"Iya mi", sambil merapikan handuk dengan segera

"Oh ya buku-bukunya kak minta tolong ya di taruh di depan"

"Siap mi". Langsung sigap membawa buku-buku ke depan.

Tanpa pengulangan instruksi kakak melakukan apa yang saya bilang dengan lebih enteng. Mungkin dia merasa tidak tertekan disuruh-suruh, karena perintah disampaikan dengan singkat dan jelas .

Lanjut lagi main dan ada yang air di karpet, rupanya itu air es batu yang mencair dan lupa ga disingkarkan sama kakak.

"Itu kakak tadi main es batu ya...airnya di lap dulu karpetnya basah"

"Iya mi" sambil ambil lap dan membersihkan playmate yang basah.

"Terimakasih ya kak, sudah mau membereskan semuanya"

"Iya mi, kan ini memang yang sudah seharusnya kakak lakukan mi"


😍😍😍 speechless saya mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. (Dia memang kalau ngomong masih baku, pengaruh buku-buku yang sering dibacakan). 

Kenapa saya speechless? Karena biasanya setiap kali saya minta tolong ini itu ono diapun akan menjawab "kenapa harus Fatih terus mi?" "Fatih capek mi" dan serentetan lain penolakan. Ya mungkin karena perintah saya yang nyerocos panjang kali lebar jadi bikin dia pusing, tertekan dan merasa disuruh-suruh terus. 

Ya ya ya saya baru menyadari hal itu. Sekarang perlu banget untuk menerapkan kaidah KISS, demi melatih kakak menjadi bertanggung jawab lagi tapi tanpa ada rasa tertekan. Bismillah...mudahkan lah ya Allah.
.
.
.
#komunikasiIbudanAnak #kaidahKISS #KomunikasiProduktif #tantangan10hari #gamelevel1 #hari2 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Jumat, 07 September 2018

Kendalikan Intonasi dan Gunakan Suara Ramah : Membuat Anak Lebih Bisa Mengerti

Komunikasi dengan kakak sebenarnya mudah, karena dia tipe pendengar yang baik kalau sesuatu disampaikan dengan lembut dan pelan. Kalau dengan teriakan bakal berbeda hasilnya. Iya kalau dengan teriakan dia cuma takut tapi tidak mendengarkan atau bahkan tidak mengerti apa yang saya omongkan / perintahkan.

Ini sudah saya sadari, tapi kalau sedang capek dan emosi ya sudah bisa dipastikan bakal ngomong dengan nada tinggi. Dan berakhir penyesalan. Hiks 

Ini kesalahan murni dari pola komunikasi saya pribadi. Tidak emosi aja kalau ngomong cenderung cepet dan belibet, apalagi kalau emosi, sudah cepet, belibet pake teriakan lagi 😭 ya anak mana ngerti. Yang ada cuma menatap dengan ketakutan dan diam karena bingung. Hiks

Pun saat nemenin kakak main. Saya yang cenderung kurang sabaran lebih sering ngomong
"Ini lho kak kaya gini. Masa ga bisa?" 
Tidak produktif sama sekali dan cenderung merendahkan. Seringnya saya baru sadar setelah mengucapkannya. 

Kembali mendapat ilmu tentang komunikasi produktif, pelan-pelan saya kembali mempraktekkannya dengan kakak. Iya memperbaiki komunikasi dengan kakak menjadi target utama saya.

Kemarin saat bermain puzle jamur paku ini menjadi awal dari perbaikan komunikasi kami. Sebenarnya ini mudah, menurut saya untuk anak seusia kakak. Tapi ternyata kakak mengalami kesulitan, karena jamur pakunya nancep agak keras.

Kalau biasanya saya akan bilang "gini lho kak, gampang kok, masa ga bisa?".
Kemarin saya mencoba mengubah kalimatnya "gini lho kak, di puter dan gerakkin pelan-pelan, terus cabut. Pake ujung jari ini...bisa kok. Pasti bisa. Tangan kakak kan kuat".

Dia pun mencoba mempraktekkan apa yang saya bilang. Awalnya tetep kesusahan dengan terus bilang "susah mi, licin mi, ga bisa ini".
Saya pun menyemangati "bisa kak, pasti bisa. Ga ada yang susah, kalau mau berusaha".

Yah satu per satu jamur paku pun bisa dia lepas dengan usaha keras. Fyuuh 

(ini jamur pakunya yang nancepin Abahnya, agak keras memang. Saat dia mau main saya minta untuk melepaskan semuanya dulu, baru deh dimainkan)

Dengan mengendalikan intonasi nada suara dan menggunakan suara ramah sangat ampuh untuk membuat kakak mengerti. Karena kakak memang tipe anak yang mudah untuk dinasehatin asal dengan ramah bukan dengan teriakan. Dan dengan mengganti kata "tidak bisa" menjadi "pasti bisa" itu membuat dia lebih semangat lagi. Semoga ya saya bisa terus sadar untuk tetap memperhatikan hal-hal dasar dalam berkomunikasi secara produktif terhadap anak.
.
.
.
.
#kakak #kesayangan #running6yo #komunikasiibudananak #komunikasiproduktif #tantangan10hari #gamelevel1 #hari1 #kuliahbundasayang #institutibuprofesional

Sabtu, 18 Februari 2017

Aliran Rasa Ini...



Aaaah kelihatannya gampang, nyatanya susah dan butuh perjuangan. Tertatih tatih menyelesaikan game level 1 ini. Dan rasanya saya masih jauh panggang dari api dalam hal komunikasi produktif ini. Sampai tantangan 10 hari selesai (dan saya minus 1 hari) saya belum berhasil menata emosi, menata tutur kata apalagi berkomunikasi secara produktif.

Tapi saya jadi tersadar dengan pola komunikasi yang selama ini di jalani. Dan jadi punya catatan besar mana saja yang harus segera diperbaiki.

Terimakasih banyak Institute Ibu Profesional, materi Komunikasi Produktif di perkuliahan Bunda Sayang ini sangat mengena di hati dan jadi cambuk bagi diri ini yang masih belajar memantaskan diri menjadi Ibu & Istri yang penuh kelembutan, cinta & kasih sayang.
.
.
.
Dwi Laelasari
Bontang, 18 Februari 2017