Social Icons

Tampilkan postingan dengan label Gaya Belajar Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaya Belajar Anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2018

Gaya Belajar Kakak (10) : Berburu Serbuk Magnet


Menemukan magnet yang lama tersimpan itu bagai menemukan harta karun. Wkwkwk iya, kakak jadi heboh tempel sana sini, nyoba bisa nempel ga. 

Tempel ke kursi, ternyata ga bisa. Karena kursi kayu. Tempel ke sendok, bisa. Karena sendok logam dan eksperimen tak sengaja lanjut saat adiknya naruh magnet di pasir. Magnet di timbun pasir dan pas diambil, wooow ada serbuk-serbuk yang menempel 😍

Akhirnya kami berburu serbuk magnet di depan rumah. Kakak antusias menimbun 3 potongan magnet di tanah semi pasir di halaman depan rumah.  Dia pun berceloteh "ternyata tanah didepan rumah kita ada serbuk magnet juga ya mi" sambil berbinar semangat. 


Kita kumpulkan serbuk-serbuk yang menempel,  dan bikin gerakan serbuk menari diatas kertas putih. Kakak makin takjub... Dan dia mencobanya dengan menggerakkan magnet dibawah kertas. 



Masya Allah, hal-hal tak terduga bisa menjadi pembelajaran buat kakak. Dan kami mengumpulkan serbuk magnet ke dalam plastik kecil,  dan kakak menimbun magnet lagi di pasir "Fatih mau nimbun magnetnya ya mi, coba sampe besok, 24jam". Dengan harapan serbuk yang menempel lebih banyak. Hehe

Kali ini kakak visual dan kinestetik, dengan memperhatikan serbuk magnet yang menempel dan memperhatikan serbuk menari. Sambil dia yang menggerakkan magnetnya.

Gaya Belajar Kakak (9) : Belajar Sholat



Ini bukan kali pertama belajar sholat. Karena udah sering dan kakakpun alhamdulillah sudah rajin ke masjid tiap adzan berkumandang. 

Hanya saja kali ini ingin lebih memperdalam. Membenarkan gerakan sholatnya dan menuntun untuk menghafal bacaan sholatnya. 

Kalau Alfatihah dan beberapa surat pendek alhamdulillah sudah lancar. Niat sholat, doa iftitah, doa tahiyat awal dan akhir belum hafal full.  Paling depannya doank. Hehe

Nah kemarin pas lagi asyik main, terdengar kakak menyuarakan doa iftitah. Dan langsung saya sambut meneruskan dan hafalan bersama sambil mengecek bacaannya dari buku favorit kakak. 


Buku tentang belajar sholat melalui cerita. Biasanya kakak baca pake epen. Tapi kali ini saya yang bacakan sambil kakak menirukan gerakan sholat. 

Ya, kali ini semuagaya dia pake. Audiotory, mendengarkan pengucapan dari saya. Visual, melihat gerakan sholat dibuku. Kinestetik, mempraktekkan gerakan sholat.

Kamis, 13 Desember 2018

Gaya Belajar Kakak (8) : Berimajinasi


Bermain balok dan menyusunnya menjadi masjid. Eh bukan denk, kata kakak ini Mushola. Namanya Mushola Al Akbar.  Masya Allaah 😍


Saat menyusun ini tanpa intervensi. Ya iyalah, sudah 6 tahun sudah bukan waktunya lagi main intervensi. Cukup amati dan diapresiasi segala hasil karyanya. 

Lain siang hari, lain malam hari. Kakak menyusun magic straw menjadi kereta lorong waktu. 


Wooow, saya agak bengong sesaat. Loronh waktu?  Tanya saya. 

"Iya mi, itu yang kaya di doraemon. Kalo di doraemon namanya pesawat lorong waktu. Kalo ini karena panjang jadinya kereta lorong waktu."

Oh yaya...saya baru inget. Dia memang lagi demen sama doraemon. Screentimenya dia milih nonton doraemon.

Diapun dengan lancar menjelaskan 

" Dengan kereta lorong waktu ini kita bisa lebih cepat kemasa depan mi. Kalo biasanya 30hari jadi 2 detik saja"

Saya masih melongo. Saya jawab "iya iya" aja 😆. Karena semalam belum menemukan penjelasan yang tepat. Dan diapun lanjut menjelaskan lagi. 

" Yang warna hijau ini adalah masa lalu. Yang warna biru adalah masa sekarang, yang warna merah adalah masa depan. Kalau warna kuning adalah masa kebangkitan ultraman"

😱 saya makin melongo mendengarkannya. 

Masya Allaah... Dengan melihat film kesukaannya, kakak bisa berimajinasi seperti ini. 

Aaah emang anak-anak itu ga pernah salah meng-copy. Apalagi tayangan yang ditampilkan dilayar. 

Kalau begini, jadi visual dia dapat dari menonton. Audio dari suara tontonan dan kinestetik dari aktivitasnya membuat lorong waktu.

Sabtu, 08 Desember 2018

Gaya Belajar Kakak (7) : Menghitung dan Menulis Angka


Kakak, memang lagi hobi menghitung. Ya hitungan sederhana pake jari tangan dan kaki.  Belum saya tindaklanjuti untuk konsep hitungan belasan, puluhan ataupun ratusan. Hehehe 

Tapi belakangan dia suka tanya... 

"Ummi, 100 dikurangi 1 sama dengan 99 kan? "
Iya kak,  betul. 

"70 tambah 70 berapa mi?"
7 tambah 7 dulu, berapa kakak? 

Diapun ngitung. 

"14 mi"
Terus ditambah 0 belakangnya. Jadiiii

"140 mi?"
Iyap betul. 

Itu obrolan seputar penjumlahan yang terlontar dari mulutnya. Saya menjelaskannya sambil nyuci piring. 🤭 hihihi 
Iya,  kalau yang agak berat saya jelaskan saat dia bertanya. 

Nah sore ini,  dia buka buku aktivitas dan tampak asyik menghitung dan menuliskan angka. Tapi saya lihat angkanya terbalik. Hehe jadi saya ajak melihat cara menulis angka di yutub dan dia praktekkan. 




Yeeaaay dengan sekali lihat, kakak bisa menuliskannya. Eh emang sudah bisa, tapi caranya kadang dari bawah dulu, suka suka dia dan sering kebalik. 😁 Jadi dengan melihat video berulang, dia makin tau cara menulis angka yang benar. 


Jumat, 07 Desember 2018

Gaya Belajar Kakak (6) : Berkisah


Setiap menjelang tidur, baik siang maupun malam, bed time stories tak pernah lupa. Dan buku favorit kakak adalah tentang siroh Nabi Muhammad SAW. 

Awal memulai bedtime stories waktu usianya 2tahun. Waktu itu dia harus melihat bukunya pada saat dibacakan. Lambat laun, entah tepatnya sejak kapan, diapun sangat menikmati hanya dengan mendengarkan suara saya saat membacakan, tidak harus melihat gambarnya. 

Dia akan diam dan menyimak setiap kata yang saya ucapkan. Sampe lama kelamaan matanya terpejam. 

Kalau saat dibacakan buku dia akan diam tanpa petingkah macem-macem. Bertanya sesekali dan selebihnya mendengarkan dengan tuntas. 

Dan diapun akan lancar menceritakan kembali apa yang sudah dibacakan. Seperti kisah Rasulullah, dia akan semangat saat menceritakan beberapa perang saat menegakkan agama Islam melawan Quraisy. Dia bahkan detail, saya saja yang menceritakan sering lupa, eh dia ingat. Masya Allah... Auditory banget. Nangkap cepet kalau dibacakan cerita. 

Semalam, nyaris 1 jam saya berkisah. Dan bangun tidur sudah nagih minta lanjut jilid baru. 


Hemmm, karena ada kesepakatan jadwal baca buku, maka baca bukunya dilanjut pas jam tidur siang. Walaupun dia ga tidur, tapi tetap jam 2 siang waktunya baca buku sampai menjelang ashar. 

Ini kemarin, iseng saat saya minta kakak menceritakan tentang kisah Rasulullah.  Masya Allah... 



Semoga ga hanya tahu sirohnya tapi juga meneladani semua akhlakul karimah sang baginda Nabi Muhammad SAW.


Kamis, 06 Desember 2018

Gaya Belajar Kakak (5) : Mencari Harta Kata

Mencari Harta Kata 

Kakak dan mba lagi demen bongkar buku dari rak dan disusun jadi rumah. Alhamdulillah bukunya boardbook, jadi aman buat dimainkan mereka. 



Nah diantara buku yang berserakan ini, saya ajak kakak sekalian untuk bermain mencari harta kata. Iya mencari kata-kata yang dibuku dan menuliskannya. 

Sebelumnya, kami menonton video tentang phonic song dibawah ini. 



Saat menonton video itu kakak sambil menirukan menyanyikannya. 

Nah untuk menambah jam terbang kakak, eh maksudnya menambah pemahaman kakak (sebenarnya dia sudah tahu, tapi kadang masih agak bingung menemukannya dalam bentuk teks), maka dimulailah pencarian kata ini. 

Aturan mainnya, cari 5 kata yang berawalan huruf A dan tuliskan. Kalau sudah, cari 5 kata yang berawalan huruf B dan tuliskan. Terus cari 5 kata yang berawalan huruf C dan tuliskan. 

Kakak antusias donk, karena dia bisa mengobrak-obrak buku dan membolak balik. Hahaha heboh banget saat menemukan kata yang dicari.  Kata pertama dia dapat dari buku Nabiku Idolaku Balita, *Ayahanda*. Dan langsung dituliskan di papan. 

Selanjutnya ketemu Assalamualaikum di buku Seri Teladan Rasulullah dan lanjut sampai kata ke 5.

1. Ayahanda di buku Nabiku Idolaku Balita
2. Assalamualaikum di buku Seri Teladan Rasulullah
3. Aku di buku Halo Balita
4. Anak-anak di buku Halo Balita dongeng 
5. Allah di buku Little Abid

5 kata berawalan huruf A ditemukan di 5 buku yang berbeda. 

Nah saat menuliskannya ini agak sedikit tantangan buatnya. Dia yang agak kurang bisa diem, diminta menulis ya sudah pasti lamaa... Hahaha karena 1 huruf jumpalitan sambil mulutnya ngomong aapa aja ga ada habisnya. 

Sambil nulis pun dia tetep aja ngomong "bener gini kan mi huruf a kecilnya?  Kalau ditarik garis lurus kebawah jadi p kan? "
"bukan p kaak, tapi q.  Kalo p kebalikannya" jawab saya.

Iya, dia kalau melihat p dan q, b dan d, atau n dan u kadang masih suka kebalik balik. 

Tantangan lain saat menuliskannya adalah dia kurang bisa konsentrasi saat memandangi huruf-huruf di buku untuk kemudian ditulis.  Dia perlu menyuarakan kata-katanya. Maka sayapun membantu nya dengan mengucapkan (menyuarakan) kata-kata yang ditemukan.
Dengan begitu tanpa melihat teks,  dia bisa menuliskan satupersatu kata yang ditemukan.

Namun beberapa kali saya tes untuk tetap melihat bukunya saat menuliskan kata-katanya.

Proses menemukan 5 kata berawalan huruf B tidak jauh berbeda. Dengan buku yang sama dia berhasil menemukan 5 kata ini dalam waktu cukup singkat. 

1. Banyak di buku Nabiku Idolaku Balita
2. Bibi di buku Halo Balita 
3. Balas di buku Seri Teladan Rasulullah
4. Bapak di buku dongeng Halo Balita 
5. Buku di buku Little Abid


Saat proses menemukan dan menuliskan kata demi kata ini kakak sudah bisa mengikuti perintah tanpa kesulitan.  Saat mencari kata dibuku, dia agak kurang teliti, jadi beberapa kata ditemukan setelah beberapa kali bolak balik halaman bukunya. 
Saat menuliskannya dia pun bisa, walaupun masih butuh panduan dan contoh bentuk huruf dan diselingi beragam tingkah dan ocehannya. 

Rencana awal 15 kata, A B C dengan masing-masing 5 kata. Namun ternyataa, baru sampai huruf B, adik bayi sudah ga kondusif. Akhirnya kakak mengalah menyudahi proses pencariannya dan dapat bonus kejutan screentime setelah berjuang menemukan harta kata.

Dalam aktivitas mencari harta kata ini semya gaya ada, namun yang menonjol adalah kinestetik dan auditory. Visual ada, namun sedikit. 

Pengamatan Hari ke5

Selasa, 04 Desember 2018

Gaya Belajar Kakak (4) : Eksperimen Tomat Ceri


Waktu dikasih pilihan mau belajar apa, antara membaca, matematika (lagi) atau eksperimen sains, kakak memilih eksperimen sains. 

Dan kami membuka koleksi buku sains dirak buku. Disepakatilah kita akan mencoba menebak kekentalan larutan dengan tomat ceri. 

Buku Confidence In Science 



Alat & bahan yang disiapkan
• jar kaca 3 pcs
• sendok untuk mengaduk
• gula sesuai kebutuhan 
• air sesuai kebutuhan 
• tomat ceri 3 buah 


Kakak rupanya sudah cukup tau tentang step-step yang harus dilakukan.


Semua proses kakak yang melakukan. Saya membantu sesekali dan menjelaskan sedikit. 
1. Menata gelas
2. Menuang gula sendok jar 1 : 2sendok, jar 2 : 3 sendok dan jar 3 : 4 sendok
3. Menuang air pake gelas takar ke 3 jar
4. Mengaduk gula biar larut

Waktu mengaduk sempat protes, karena kook lama larutnya. Wkwkwk 😂

Setelah larut masukkan tomat cerinya dan kita amati. Apa bener sesuai dengan yang dibuku. 


Dan taraaa... Bingung kaaan??  Mana yang larutannya paling kental? Karena kalau dibuku,  tomat ceri akan mengapung lebih tinggi di larutan yang paling kental. Wkwkwk kalau begini kan tampak susah ngamatinnya. 😁 Ini sih mungkin karena porsi gula cuma beda 1 sendok, jadi ga kelihatan banget perbedaan kekentalannya. 

Akhirnya masing-masing jar ditambah 1 sendok lagi. Tetep sih masih beda tipis tingginya...hahaha ga keliatan jelas seperti dibuku. 

Btw, susunan jar nya sebelum diamati ngacak 😆 mana yang 3 sendok,  mana yang 4 sendok itu kita ga tau. Hahaha karena sudah di pindah pindah sama kakak. Beneran deh kudu ngamatin dengan jeli untuk menentukan mana yang jar yang paling kental dan yang sedikit kental. 

Karena ragu dengan hasil pengamatan yang beda tipis, akhirnya kami cicipi. Hahaha yang manis banget berarti itu yang 5 sdm dan paling kental. 


Setelah itu, dijejerin sesuai urutan yang manis aja (3sdm), manis banget (4 sdm) dan manis bangeeet (5 sdm). Dan diamati, ternyata memang tomat cerinya mengapung sesuai kadar kekentalan larutan gulanya. Yang paling manis aka kental tomat cerinya paling tinggi (walaupun bedanya tipis).  😂

Dari eksperimen ini kakak sangat bersemangat saat mulai menuang, mengaduk dan memindah-mindahkan jarnya (kinestetik). Tapi agak kurang antusias saat mengamati tomat ceri dalam larutannya (visual). Saat saya ajak dia duduk jongkok, sambil ngamatin, dia iyaya aja. Tapi entah fokusnya kemana. Wkwkwk dan saat saya ulangi lagi minta ngamatin malah bilang "Ummi saja yang lihatin." 😆 
Dan dia ternyata masih mengingat informasi dari buku CIS ini yang tentang larutan, saat dia membacanya pake epen beberapa waktu lalu (auditoy). Ga perlu saya ulangi penjelasan, dia sudah tau. Malah pas saya tanya, kenapa gula larut dalam air, diapun menjelaskan seperti yang ada dibukunya. 


Senin, 03 Desember 2018

Gaya Belajar Kakak (3) : Practical Life Skills


Pengamatan gaya belajar kali ini adalah saat aktivitas practical life skills. 

Sabtu lalu, waktunya bersih-bersih rumah. Kakak dan mba terlibat aktif. 

Menyusun buku ke tempatnya, menyapu dan mengepel lantai. 

Mba Aisyah bagian nyusun buku favoritnya. Alhamdulillah bisaa...25 buku berjejer rapi. 

Kakak bagian mengambil buku yang tersebar di dua kamar dan ruang tengah. Sengaja... Biar tenaganya tersalurkan. 

Sempat protes karena capek dll. Hahaha tapi ya tetep dilakukan sambil mulut ngomong apa aja. 

Lanjut bagian saya menyapu dan mengepel lantai. 

Saat sesi mengepel lantai, ada yang penasaran nih... Kakak ambil alih pel-pelannya. 



Baiklaaah.... Sekalian aja diajarin ngepel lantai. Daaan seneng donk... Dikasih otoritas penuh ngepel. Sebelumnya saya kasih contoh pegang gagang pelnya dan gerakan maju mundurnya



Dia iyaiya aja... Hahaha
Pas mulai beraksi, bukannya gerak maju mundur malah gerakan muter-muter. 🤣 

Aaah ini anak... Selalu aja bikin melongo emaknya dengan aksinya. Bersih sih... Tapi cebrik (becek), karena dia ga diperas dulu pelnya. Main celup terus puter-puter. Wkwkwk

Dan setelah capek, dia nyeraah. Hahaha pel dikasih ke saya lagi.

#####

Beda hari sabtu, beda pula hari ini. Practical lifskills nya adalah menjemur baju. 

Ini bukan yang pertama kali, karena doi selalu ngintil kalau saya jemur baju. Dan baru kali ini keinget buat mendokumentasikannya. 



Kakak bukan tipe anak yang mau disuruh-suruh. Tapi kalau dia melihat, dia akan mendekati dan mencobanya. Kalau sengaja dimintai bantuan "bantuin Ummi jemur baju yuk". Sudah pasti akan menolak. 
Tapi kalau dengan kalimat "Ummi jemur baju dulu ya, kakak sama adik main dulu". Maka saat melihat saya jemur,  diapun akan menghampiri dan ngebantuin. Hahaha #modusterbalik

Sudah pasti aktivitas jemur baju akan semakiiin lamaaa dibanding jemur sendiri. Hahaha tapi disitulah prosesnya. Disitulah saya menemukan AHA moment dan mengamati kakak. 

10 baju berhasil dia jemur 😍 ets,  tapi dia cuma mau bajunya sendiri, masih belum mau jemur baju adiknya. Wkwkwk 

Gapapalah yaa... Yang penting kakak menikmati proses menjemur yang sesungguhnya itu juga bermanfaat baginya dalam konstentrasi, mengikuti instruksi dari saya dan berpikir strategi mulai dari ambil hanger, masukin baju dan nyantelin dijemuran. 

Karena belajar itu bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari dengan melibatkan anak dan memberikan dia kepercayaan untuk melakukannya. 

Dari aktivitas practical life skill diatas kakak akan berbinar-binar kalau melihat dan praktik langsung. Dia cenderung bingung kalau dijelaskan. Imi mungkin karena bahasa saya yang belepotan kali ya 😆

Jadi agak beda nih dengan sebelumnya pas belajar matematika, yang dia lebih masuk pas dijelaskan daripada melihat medianya.

Tabel Pengamatan

Sabtu, 01 Desember 2018

Gaya Belajar Kakak (2)


Kemarin saat ikut belanja sayur, membeli ikan lele, kakak sangat antusias karena doi doyan banget lele. 

Ahaaa... Sekalian ajalah ajak belajar tentang lele. Mulai saya ajak membersihkan lele pake garam biar lendirnya hilang. Disini terjadi diskusi tentang lendir, tekstur lendir, garam, tekstur garam dan kenapa bisa garam menghilangkan lendir lele.

Bersihin lelenya sengaja diluar.

Tangannya asyik meremas lele sambil mulutnya tanya cemmacem. Saat saya peragaan gerakan meremas lele, dia perhatikan dan sambil melakukan. 

Setelah bersih, dibumbuin dan kita belajar lele dari buku. Mencari informasi tentang ikan lele. Sekalian diajak belajar membaca teks yang ada dibuku. 


Kebiasaan kalau baca buku ensiklopedi WWP ini pakai epen. Jadi saat diajak membaca teksnya dengan melihat satu per satu katanya dia agak kurang suka. Banyak interupsi dan ngelesnya. Dan ga lama berselang "sudaah Ummi belajar membacanya, Fatih capek".
Heemmm kalau udah keluar kata-kata tersebut, itu tandanya kakak bosen dan ga mau lanjut. Kalau dipaksa bisa menyulut emosi. 
Yasudah sesi belajar membaca disudahi dengan dilanjut makan siang lauk lele goreng.  Alhamdulillah 

Tabel pengamatan hari ke 2

Jumat, 30 November 2018

Gaya Belajar Kakak


Mengetahui gaya belajar anak itu penting untuk menentukan strategi belajar yang tepat buatnya. Agar anak bisa maksimal belajar sesuai gayanya. Bukan belajar karena dipaksakan gaya orangtua atau gurunya.

Kakak (6,2th) yang menonjol lingustiknya ini kalau diamati sekilas, dia cenderung auditory. Tapi ini masih asumsi saya semata. Maka perlu dilakukan pengamatan lebih dalam dengan memberikan dia beragam gaya belajar.  Mana yang membuatnya berbinar, itulah gayanya.

Saat belajar konsep dasar bilangan kemarin, saya mulai mengamati.

Saat bermain Logico Piccolo penjumlahan, dia menyuarakan soalnya. 
"dua tambah satu sama dengan tigaaa" sampai 5 worksheet dikerjakan.


Saat dia bermain, pindah tempat ke kursi, kelantai dan gerak-gerak.
Namun, saat kelamaan memandangi worksheetnya dia jenuh dan akhirnya permainan disudahi.


Main diluar dengan memanfaatkan mainan yang ada dirumah. Mengenal konsep jumlah,  satuan, ratusan dan ribuan.



Saat bermain ini,  dia lagi-lagi menyuarakan saat menghitung. Saat saya jelaskan dia mendengarkan dan menirukan lirih suara saya. Tapii dia tidak memperhatikan saya ataupun angka yang saya tunjuk, melainkam asyik main lego sendiri. Saat ditanya, ya dia paham dan mengulangi apa yang saya jelaskan.

Pengamatan akan terus dilakukan sampai mengerucut pada hasil, gaya belajar