Social Icons

Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2015

Belajar Membaca: Bisa karena Biasa

Belajar Membaca: Bisa karena Biasa

Diceritakan bahwa salah seorang tokoh bernama Scout, saat ia memasuki kelas satu SD telah lancar membaca koran, padahal teman-temannya yang lain baru akan diajari alfabet dan mengeja. Kemampuannya itu membuat gurunya sedikit kesal. Sang guru menyuruh Scout berkata pada ayahnya agar tidak mengajarinya lagi di rumah.

Scout bingung. Ia pun berkata pada gurunya bahwa ayahnya tak pernah mengajarinya. Ayahnya terlalu sibuk. Jika pun ayahnya ada di rumah, ia malah sibuk membaca, sehingga tak sempat untuk mengajarinya membaca.

Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru tidak percaya dan bersikukuh agar Scout menyampaikan pesan pada ayahnya agar berhenti mengajarinya di rumah. Sang guru yakin bahwa tidaklah mungkin seorang anak bisa membaca tanpa diajari siapapun.

Rupanya, memang bukanlah belajar secara sengaja yang membuat Scout bisa membaca, melainkan karena ia selalu berada di dekat dan bahkan di pangkuan ayahnya saat sang ayah (yang seorang pengacara) membaca keras-keras koran, draft undang-undang, ataupun kitab hukum.

Karena saking seringnya hal itu dilakukan. Scout kecil akhirnya bisa memecahkan rahasia kode-kode gabungan huruf tanpa ia sadari. Ia bisa membaca sebagaimana ia bisa mengancingkan baju. Semua tanpa proses yang terstruktur. Semua mengalir sebagai sebuah kebiasaan yang terus menerus.

Nah, dari semua fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa, sesungguhnya BISA MEMBACA tak selalu merupakan hasil dari belajar secara terstruktur. Bisa saja hal itu adalah output dari gemar membaca.

Kalau kita tidak menetapkan target kemampuan anak berdasarkan waktu atau usia mereka, maka cara ini adalah yang paling mudah, yaitu: Membacakan buku pada anak-anak setiap hari sampai mereka memiliki ketergantungan luar biasa pada buku. Lama kelamaan hal itu akan membuat mereka tergerak sendiri untuk belajar, entah dengan meminta bantuan kita ataupun belajar dengan sendirinya. Apakah Anda percaya?

Betapa banyak anak yang digegas untuk bisa baca hanya karena syarat untuk masuk sekolah, tapi akhirnya tak suka membaca. Menurut saya, bisa membaca hanyalah alat, sedangkan SUKA MEMBACA adalah target utama. Supaya keduanya tercapai, maka mengakrabkan anak-anak dengan buku sedari kecil, itulah cara yang tepat. Tak perlu buku mahal, buku murah atau buku bekas pun bisa, asalkan isinya bermutu.

*Maya A Pujiati
Sumber : www.duniaparenting.com

Sabtu, 04 Juli 2015

Renungan pagi dari seorang ibu yang bangga

Renungan pagi dari seorang Ibu yang bangga:

" Saya ingat lagi perkataan Helvy. Maret 1992, saat Helvy menulis KMGP pertama kali, itu juga bulan dan tahun kelahiran anak lelaki pertama saya. Ketika cerita ini dimuat di majalah Annida 1993, saya adalah ibu muda dengan seorang anak lelaki berumur setahun. Tentang spirit Palestina dalam diri Helvy dan Mas Gagah…, saya rasakan besarnya cinta diri ini terhadap Palestina. Bahkan sebelum menikah sudah saya persiapkan nama istimewa untuk anak saya dari perjuangan pergerakan Palestina. Saya sangat bangga dengan pejuang Palestina dan merasa harus turut mengambil peran dalam kemerdekaan Palestina. Sheikh Ahmad Yasin dan seluruh syuhadanya adalah ruh yang menggerakkan keistiqomahan saya. Maka ketika bayi lelaki kecil ini lahir kami rangkaikan nama yang mengingatkan orang pada Palestina dan para syuhadanya.

Alhamdulillah saya sangat bersyukur anak saya tumbuh besar dan membanggakan. Ia bisa meraih berbagai prestasi di bidang bisnis, sains hingga teater. Namun ia tak pernah lupa untuk sholat tepat waktu dan giat menghafalkan Al-Quran. Tak seperti para pemuda lain yang eksis di dunia maya, ia enggan memiliki akun FB, twitter atau instagram dengan alasan ingin lebih menjaga hafalan Quran-nya.

Saya ingat, ketika casting online KMGP di Youtube saya sampaikan ke anak saya, ia menolak untuk main dan terlibat. Ia memang menyukai teater dan bila pun mau main film, ia akan memastikan itu film dakwah. “Aku tidak ingin jadi artis terkenal, Ummi,” kata anak saya itu. “Aku hanya ingin menjadi bagian dari dakwah, termasuk melalui film.”

Ia sungguh tak berambisi. Bahkan sampai di hari terakhir tgl 28 februari 2015 tersebut kami sedang pulang kampung ke Bengkulu, saya diskusi dengan anak saya tentang visi besar film ini. Tentang perjuangan, tentang indahnya Islam, damainya Islam, rahmat yang diberikan Islam bagi semesta, juga tentang kegagahan Islam.

Alhamdulillah dari diskusi tersebut anak lelaki saya mau ikut casting online tersebut. Dengan waktu yang sangat terbatas, kami cari studio foto malam hari. Tak sampai di situ, kota kecil ini dengan keterbatasan internet di malam hari, saya harus cari warnet pula di tengah malam. Hampir pukul 00.00 menuju hari berikutnya, baru video tersebut bisa kami unggah ke Youtube. Tepat di menit menit terakhir!

Subhanallah, 23 tahun setelah buku ini terbit, saya melihat bagaimana persiapan mewujudkan filmnya, dan ternyata anak lelaki yang saya lahirkan, yang kini berusia 23 tahun itu kini menjadi bagian di dalamnya!
Ya Rabb, saya tidak lagi sekadar menatap punggung tokoh fiksi kesayangan saya itu, bahkan saya bisa memeluknya dengan sangat erat!

“Masya Allah, saya merasa seperti menemukan anak saya yang hilang 23 tahun lalu….,” kata Helvy terharu saat bertemu kami. “Akhirnya saya tahu, mengapa Allah memberi waktu sepanjang ini untuk film KMGP….”

Subhanallah. Adakah yang lebih apik daripada semua yang telah diatur Sang Maha? Adakah yang lebih indah dari rencanaNya bagi Helvy, Mas Gagah, saya dan Hamas Syahid Izzudin?"

http://sastrahelvy.com/2015/07/03/rencana-untuk-saya-helvy-mas-gagah/
(Tulisan bu Yulyani Yeni, Ibunda Hamas Syahid Izzudin, pemeran Gagah dalam film KMGP)